Tampilkan postingan dengan label Strategic Management. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Strategic Management. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Juni 2015

Managerial Process of Crafting & Executing Strategy

Ada lima tahapan manajerial dalam menciptakan dan melaksanakan strategi perusahaan, yaitu:



Membangun sebuah visi dan misi perusahaan.

Visi adalah pandangan terhadap masa depan perusahaan atau organisasi untuk masa yang akan datang. Dengan kata lain, visi adalah bagaimana seorang manajer melihat perusahaan atau organisasi yang dipimpinnya akan menjadi "apa" pada masa depan nanti. Visi strategis adalah guiding star yang ditetapkan sebagai arah tujuan masa depan perusahaan.
Misi adalah upaya-upaya yang akan dilakukan untuk mewujudkan visi yang telah ditetapkan.  Misi perusahaan dapat memberi gambaran dari tujuan perusahaan saat ini.
Misi perusaaan berisikan core value perusahaan sebagai panduan untuk mewujudkan visi dan misi perusahaan. 

Core value merupakan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh organisasi, memberikan batasan dalam pemilihan cara-cara, serta membentuk perilaku yang diharapkan dari anggota organisasi dalam perjalanan mewujudkan visi. 

Tahapan ini akan memberikan arah perusahaan, motifasi, inspirasi bagi karyawan, menetapkan batas dan pedoman tindakan melalui organisasi dan komunikasi dengan stakeholder demi masa depan perusahaan.


Menetapkan tujuan perusahaan


Tujuan Perusahaan (corporate goal) ditetapkan untuk mengkonversikan visi dan misi kedalam target kinerja perusahaan dan menggunakan hasil yang telah ditargetkan sebagai patokan dalam mengukur kinerja perusahaan. Terdapat Dua tipe tujuan perusahaan adalah tujuan finansial dan tujuan strategis.

Menciptakan strategi untuk mencapai tujuan

Tujuan strategis akan menggerakkan perusahaan secara strategis sesuai dengan yang ditetapkan oleh manajemen. Pada tahap ini manajer akan membuat strategi proaktif/ deliberates strategy, disebut juga dengan analisa strategis, yang sifatnya top-down dengan berdasarkan pada model bisnis perusahaan. Kemudian membuat emmergent strategy atau strategi reaktif yang bersifat bottom-up melalui proses learning-by-doing atau proses eksperimental. Lebih luas lagi, pada beberapa perusahaan lain menerapkan empat level strategi menurut tingkatan manajement mereka. Keempat strategi itu adalah:

  1. corporate strategy, 
  2. business strategy, 
  3. functional-area strategies, dan 
  4. operating strategies.

Makin kebawah level manajemennya maka akan makin signifikan peran manajemen dalam penerapan strategi. Walaupun startegi bisa dibuat dan diterapkan atau dilaksanan berbeda pada setiap level namun strategi perusahaan secara keseluruhan merupakan kolaborasi usaha yang dilakukan oleh setiap manajer sesuai dengan levelnya masing-masing.

Melaksanakan atau mengeksekusi strategi yang dipilih

Pilih dan konversikan rencana strategis kedalam tindakan-tindakan yang diperlukan. Mengatur eksekusi strategi adalah tindakan yang berorientasi pada operasional, berupa kumpulan aktifitas yang diarahkan pada pembentukan kemampuan setiap bagian core business dengan berbagai strategi pendukung. Penanganan proses penerapan strategi dapat berhasil apabila segala sesuatunya berjalan dengan lancar sesuai strategi perusahaan dan secara keuangan mampu memenuhi target yang telah ditetapkan. Bila hal ini terjadi berarti menunjukkan perkembangan yang baik dalam rangka pencapaian visi strategis perusahaan.


Memantau Perkembangan dan Melakukan Evaluasi Kinerja.

Evaluasi dilakukan untuk menemukan pengaturan yang tepat berdasarkan pengalaman, serta melakukan perubahan, ide baru dan peluang baru. Tahap ini merupakan trigger point dalam memutuskan apakah akan dilakukan perubahan ataukah tetap melanjutkan visi dan misi, tujuan, sterategi atau bahkan metode pelaksanan strategi perusahaan. Perubahan strategi adalah hal yang lumrah dilakukan pada perusahaan-perusahan besar. Hal ini dilakukan untuk mengatasi situasi atau kondisi tertentu yang diahadapi oleh perusahaan.

Rangkaian dari visi dan misi, tujuan, strategi perusahaan merupakan rencana strategis dalam menghadapai perubahan kondisi industri, persaingan, pencapaian tujuan dan perkembangannya berdasarkan pada visi perusahaan. 



Perusahaan membuat strategi dengan berdasarkan pada ambisi untuk memperlebar tujuan akan membutuhkan strategic intent yaitu komitmen yang kuat untuk melakukan apapun dalam mencapai tujuan tersebut. 



Jajaran direksi memiliki tanggungjawab kepada shareholder dalam memainkan peran penting untuk mengawasi pembuatan dan pelaksanaan strategi perusahaan. Peran penting BOD adalah melakukan pengawasan, evaluasi, dan pengambilan tindakan yang diperlukan pada situasi tertentu. Keempat tanggung jawab tersebut adalah;

  1. Kritis dalam menilai arah perusahaan, strategi dan pendekatan bisnis.
  2. Mengevaluasi kemampuan kepemimpinan strategis dari senior executive dan melakukan pergantian bila terjadi penurunan kemampuan.
  3. Membentuk Perencanaan kompensasi sebagai penghargaan bagi top eksekutif atas tindakan yang berhasil memberikan pelayanan bagi stakeholder terutama para pemegang saham.
  4. Memastikan bahwa perusahaan mengeluarkan laporan keuangan yang akurat serta memiliki kontrol keuangan yang kuat.

Sumber:
  • Thompson, A. A., Peteraf, M. A; Gamble, J. E.; & Striclan III, A. J. (2012),Crafting and Executing Strategy, New York: McGraw-Hill.

Corporate Culture and Leadership: Menanamkan Budaya Perusahaan yang Mendukung Eksekusi Strategi yang Baik.

Budaya perusahaan merujuk pada karakter iklim kerja internal perusahaan yang dibentuk oleh sistem nilai yang dianut, kepercayaan, prinsip bisnis, standar etika, dan tradisi yang menentukan norma-norma perilaku, sikap kerja yang tertanam, praktik kerja yang diterima, dan gaya operasi.

Key Feature dari Budaya Perusahaan

  1. Nilai, prinsip bisnis, dan standar etika
  2. Pendekatan Perusahaan dalam mengelola orang, kebijakan resmi perusahaan, prosedur, dan praktik operasi.
  3. Atmosfir dan semangat yang meliputi iklim kerja
  4. Cara manajer dan pekerja berhubungan dan berinteraksi satu sama lain
  5. Kekuatan dari dukungan kolega untuk melakukan sesuatu dengan cara tertentu sesuai dengan norma yang diharapkan.
  6. Tindakan dan perilaku yang secara eksplisit didorong dan dihargai oleh manajemen.
  7. Tradisi perusahaan yang dihormati dan cerita yang sering diulangi tentang tindakan heroik dan bagaimana kita melakukan sesuatu disini.
  8. Cara perusahaan dalam kesepakatan dengan stakeholder eksternal.

Aturan Nilai Inti dan Standar Etika

Sebagai dasar dan pembentuk budaya perusahaan, nilai inti (core value) dan standar etika memiliki dua aturan, yaitu;
  1. Membantu menciptakan iklim kerja dimana karyawan perusahaan berbagi dan memegang teguh keyakinan tentang bagaimana melaksanakan bisnis perusahaan.
  2. Menjadi patokan dalam mengukur kesesuaian tindakan, keputusan, dan perilaku tertentu sehingga membantu mengarahkan karyawan untuk melakukan sesuatu dengan benar dan melakukan sesuatu yang benar.

Pentingnya Budaya Perusahaan dalam Eksekusi Strategi yang Baik

Pada perusahaan dengan budaya yang kuat, nilai mengakar dengan dalam, dan norma berperilaku yang dianut akan menentukan pelaksanaan bisnis dan membantu eksekusi strategi perusahaan, atau dengan kata lain tindakan dan keputusan yang diambil karyawan mencerminkan nilai dan prinsip binis sebuah perusahaan. Budaya yang kuat mendorong tindakan, perilaku, dan praktik kerja yang kondusif untuk melakukan eksekusi strategi dengan baik dan secara signifikan menambah kekuatan dan efektifitas upaya melakukan eksekusi strategi dengan baik. Budaya yang kuat mendukung eksekusi strategi dalam 3 cara, yaitu;
  1. Budaya yang sesuai dengan kebutuhan dalam upaya melakukan eksekusi strategi memberikan perhatian pada hal apa yang paling penting untuk karyawan dalam upaya eksekusi strategi
  2. Budaya yang terinduksi oleh peer pressure kemudian mempengaruhi karyawan untuk berbuat sesuatu yang mendukung eksekusi strategi dengan baik.
  3. Budaya perusahaan yang konsisten dengan kebutuhan eksekusi strategi yang baik dapat meningkatkan energi karyawan, menguatkan komitmen karyawan dalam mengeksekusi strategi secara sempurna dan meningkatkan produktifitas karyawan.

Dalam mengembangkan strategi, budaya adaptif merupakan pendorong bagi implementasi dan proses eksekusi strategi. Ada beberapa hal dalam budaya perusahaan yang tidak sehat yang dapat menghambat strategi eksekusi strategi yang baik, yaitu:
  1. budaya menolak-perubahan,
  2. budaya yang dipolitisasi,
  3. budaya yang sempit/ picik,
  4. budaya tidak etis dan dorongan keserakahan,
  5. budaya yang tidak compatible.

Perubahaan budaya diperlukan dalam upaya melakukan eksekusi strategi dengan baik. Namun perubahan sering menimbulkan permasalahan. Untuk mengatasi perubahan permasalahan, ada empat langkah yang dapat dilakukan, yaitu
  1. Mengidentifikasi aspek dari budaya perusahaan saat ini, mana yang mendukung eksekusi strategi dengan baik dan mana yang tidak.
  2. Spesifikasikan tindakan, perilaku, dan praktik mana yang harus menonjol dalam budaya yang baru.
  3. Mengkomunikasikan permasalahan saat ini dan pentingnya perubahan harus dilakukan.
  4. Menunjukkan kesungguhan tindakan dalam mengikuti perilaku, praktik dan norma-norma dari budaya baru.

Mengarahkan dorongan untuk eksekusi strategi dengan baik dan keunggulan operasional membutuhkan 3 tindakan penting dari manajer, yaitu;
  1. Mengetahui apa yang terjadi dan terus memantau perkembangan. Upaya ini sering berhasil melalui Management By Walking Around (MBWA).
  2. Memberikan tekanan konstruktif  pada organisasi untuk mengeksekusi strategi dengan baik dan meraih keunggulan operasional.
  3. Memulai tindakan perbaikan untuk meningkatkan eksekusi strategi dan memenuhi target hasil kinerja.

Refference:

  • Thompson, A. A., Peteraf, M. A; Gamble, J. E.; & Striclan III, A. J. (2012),Crafting and Executing Strategy, New York: McGraw-Hill.

Sabtu, 24 Januari 2015

Mengatasi Ancaman dalam Menjalankan Bisnis

Terdapat 5 Ancaman yang dikeumukakan oleh Porter ( Porter Five Forces), yang bisa membahayakan suatu perusahaan, yaitu: 
  1. Intensitas Persaingan 
  2. Pendatang Baru 
  3. Produk Substitusif
  4. Bargaining Power of Customer
  5. Bargaining Power of Supplier.
Berikut ini adalah cara generik yang bisa diterapkan dalam mengatasi 5 ancaman tersebut . Pada bagian pertama berisi 3 ancaman dan langkah-langkah mengatasinya, yakni dengan cara:

Perencanaan

  • Lakukan perencanaan secara teratur sesuai dengan jumlah rata-rata produksi ditambah cadangan sebesar 50 persen. 
  • Buat desain program yang sesuai trend atau yang memiliki khas tersendiri. 
  • Hitung kebutuhan faktor produksi yang dibutuhkan lalu susun strategi untuk disesuaikan dengan kapasitas sumber daya yang dimiliki. 
  • Perkirakan kendala yang akan dihadapi atau sering dihadapi pada proses-proses selanjutnya, lalu buat opsi strategi untuk mengatasi. 
  • (berkaitan dengan ancaman ke-5) Lakukan survey pasar (lebih dari satu supplier) untuk memperoleh patokan harga dan mintalah penawaran harga sesuai kuantitas bahan baku yang dibutuhkan. Ini berlaku bukan hanya pada bahan baku tapi juga pada faktor produksi lain seperti machining, tenaga kerja, dsb. 
  • Lakukan proses selanjutnya dengan berpegang pada draft strategi yang sudah disusun tersebut.

Marketing

  • Pahami karakteristik produk anda (harga, kualitas, kelebihan, kekurangan).
  • Pastikan produk anda akan mememasukin pasar dan unggul sebagai Low-Cost based provider, Best-Cost based Provider, Differentiation (tampil beda dengan khas tersendiri), atau Focus (mengincar pasar yang tidak dimasuki produk lain).
  • Lakukan observasi terhadap beberapa segmen pasar (harga, kekuatan pemimpin pasar, kekuatan pesaing, dll)
  • Lakukan segmentasi pasar untuk mencari segmen mana yang paling potensial bagi produk anda
  • Lakukan observasi terhadap sub segmen pasar yang anda incar (harga, kekuatan pemimpin pasar, kekuatan pesaing, dll)
  • HINDARI SEGMEN/ SUB SEGMEN PASAR DIMANA TERDAPAT PRODUK YANG MEMILIKI COMPETITIVE ADVANTAGE JAUH DIATAS PRODUK ANDA DAN JANGAN MENGANGGAPNYA SEBAGI PESAING KARENA ANDA BAKAL MATI KONYOL.
  • Pilih Segmen/ Sub segmen pasar dimana anda memiliki competitive advantage yang sebanding atau lebih kuat. (pilih lawan yang sebanding)
  • Bersaingalah secara sehat dan tutupi segala celah yang bisa menimbulkan image buruk pada produk atau perusahaan anda.
  • Cari tahu apa yang menjadi keunggulan produk pesaing dan buat keunggulan yang melebihi itu. Jangan meniru produk orang lain karena produk anda tidak akan bisa mengungguli produk tersebut, buatlah yang lebih baik.
  • Membuka diri dan Open Minded terhadap semua masukan dari konsumen dan jadikan feedback tersebut sebagai keunggulan karena bisa memotong biaya riset dan pengembangan (kecuali anda memang tidak memiliki upaya riset dan pengembangan produk)
  • Bila Anda sebagai pemimpin pasar, jangan sombong!! tetap waspada terhadap 3 ancaman di atas. Pertahankan posisi sebagai innovator, bukan sebagai follower.
  • Fokuskan diri ke produk Anda sendiri dan jangan menjelek-jelekkan produk pesaing, biarkan konsumen yang menilai produk mana yang terbaik.
  • Berikan kesempatan kepada konsumen untuk menjadi bagian dari proses development.
Dengan competitive advantages yang dimiliki perusahaan, produk apa pun yang anda buat akan memiliki keunggulan bersaing di pasar.

Untuk mengatasi ancaman ke-4 (Bargaining Power of Customer) yang dapat dilakukan adalah:
  • Berusaha semaksimal mungkin memenuhi keinginan konsumen. 
  • Jadikan konsumen sebagai mitra sehingga akan membantu kita dalam proses research and development melalui feedback negatif maupun positif yang disampaikan. 
  • Langkah ini juga dapat membantu proses promosi dan marketing produk kita oleh konsumen itu sendiri bila keinginan mereka berhasil dipuaskan.

Dan untuk mengatasi ancaman ke-5 (Bargaining Power of Supplier) yang dapat dilakukan adalah:
  • Jangan hanya tergantung pada satu supplier saja. Carilah supplier lebih dari satu pada setiap bahan baku dan proses yang kita butuhkan dan ciptakan kompetisi antar supplier
  • Pilihlah supplier yang memiliki karakter yang sesuai dengan strategi perusahaan sehingga akan lebih mudah menciptakan sinergi. 
  • Bila perlu lakukan kerjasama strategis dengan supplier sehingga kita akan mendapat dukungan yang lebih besar karena bisa beroperasi secara korporasi.

Jalankan sebuah bisnis yang sehat yang mencerminkan kepribadian anda. Selain membutuhkan strategi yang tepat, sebuah bisnis yang dijalankan juga membutuhkan kepemimpinan strategis. Bisnis anda kan mencerminkan karakter diri pemimpinnya juga sebaliknya, karakter pemimipin mencerminkan karakter bisnis perusahaan tersebut. Sebagai pemimpin startegis yang beretika seorang manajer harus menjalankan dua fungsi penting yang saling terkait erat, yaitu sebagai Moral Person dan Moral Manager.

Untuk bisa bersaing dalam sebuah pasar atau sebuah industri, langkah startegis yang bisa dilakukan adalah menciptakan dan mengoptimalkan competitive advantages (keunggulan bersaing). Ciptakan keunggulan bersaing yang khusus sehingga anda memiliki sesuatu keunggulan yang langka, tidak dimiliki oleh kompetitor, dan sulit ditiru oleh kompetitor. Keunggulan itu ditanamkan pada setiap aktifitas dalam rantai nilai (value chain activities) yang dilakukan perusahaan. Setiap tahapan penambahan nilai (value chain) yang anda lakukan akan memiliki keunggulan masing-masing mulai proses perencanaan, produksi, pemasaran, dan keuangan.

References:
  •  Trevino, L. K et al; 2000; Moral Person and Moral Manager: How Executives Develop A Reputation For Ethical Leadership; 2000.
  • Thompson A. A, et al; 2012; Creating and Executing Strategy; McGrawHill, New Jersey

Jumat, 13 Desember 2013

Building an Organization Capable of Good Strategy Execution



Untuk mulai mengimplementasikan strategi baru, seorang manajer harus  memulai dengan mendalami apa yang harus dilakukan secara berbeda agar bisa melaksanakan strategi tersebut dengan sukses. Mengeksekusi sebuah strategi harus berorientasi pada tindakan untuk mendorong aktifitas operasional, manajemen SDM, dan proses bisnis. 

Eksekusi yang baik terhadap sebuah strategi membutuhkan usaha tim. Semua manajer memiliki tanggung jawab atas wewenangnya melakukan eksekusi strategi. Setiap pekerja harus berpartisipasi aktif dalam proses eksekusi strategi.

Komponen-komponen prinsip dalam melakukan eksekusi strategi adalah:

  1. Mengisi organisasi dengan manajer dan pegawai yang mampu dalam mengeksekusi strategi 
  2. Membangun kapabilitas yang dibutuhkan organisasi agar berhasil mengeksekusi strategi 
  3. Menciptakan struktur organisasi pendukung strategi. 
  4. Mengalokasikan anggaran yang cukup dan sumberdaya lainnya dalam upaya mengeksekusi strategi 
  5. Membuat kebijakan dan prosedur yang memfasilitasi eksekusi strategi 
  6. Mengadopsi best practice dan proses bisnis yang mendorong perbaikan berkelanjutan dalam aktifitas eksekusi strategi. 
  7. Memasang informasi dan sistem operasi yang memungkinkan personil perusahaan untuk melaksanakan aturan strateginya dengan baik. 
  8. Menetapkan hadiah dan insentif atas pencapaian dalam target strategis dan keuangan. 
  9. Menanamkan budaya korporat yang mempromosikan eksekusi strategi yang baik. 
  10. Menguji kepemimpinan internal yang dibutuhkan untuk mendorong implementasi strategi kedepannya.

Dari kesepuluh komponen prinsip diatas, dikelompokkan lagi menjadi 3 kelompok yaitu; (1) Memperkuat organisasi, (2) Mengalokasikan dan memperkuat sumberdaya internal kelembagaan, (3) Evaluasi dan menciptakan strategi pendukung.


Memperkuat Organisasi


Berikut ini adalah pemahaman tentang kelompok yang pertama yaitu tentang organisasi. Membangun kapabilitas yang dibutuhkan organisasi agar berhasil mengeksekusi strategi meliputi 3 tindakan penting, yaitu;

a. Menetapkan personil/ staf organisasi.

  1. Menyusun tim Manajemen yang kuat dengan campuran antara pengalaman, skills, dan kemampuan untuk menyelesaikan sesuatu merupakan langkah pertama dalam mengimplementasi strategi. 
  2. Merekrut dan menyaring pekerja bertalenta. Pada banyak industri, menambahkan talenta dan membangun modal intelektual lebih penting bagi eksekusi strategi yang baik dibandingkan menambahkan investasi dalam modal proyek

b. Membangun dan menguatkan core competencies dan kemampuan bersaing


  1. Membangun sekumpulan sumberdaya dan kemampuan yang disesuaikan dengan strategi saat ini. Membangun core competencies dan kapabilitas yang baru bukanlah pekerjaan yang dapat diselesaikan dalam waktu semalam. 
  2. Meningkatkan dan merevisi sumberdaya dan kemampuan sebagaimana kondisi eksternal dan perubahan strategi. Kapabilitas perusahaan harus disegarkan lagi dan diperbarui lagi agar bisa selaras dengan harapan konsumen, perubahan kondisi persaingan, dan inisiatif startegi baru. 
  3. Melatih dan melatih ulang personil perusahaan untuk menjaga kemampuan berdasar pengetahuan dan kemampuan berdasar keterampilan.

c.  Menata organisasi dan etos kerja


  1. Menyusun kelembagaan organisasional yang memfasilitasi eksekusi strategi dengan baik. Menyelerasakan struktur organisasi dengan strategi perusahaan bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu; (1) Membuat aktifitas-aktifitas kritis startegi dengan berdasarkan pada struktur organisasi, atau (2) Menyusun struktur organisasi berdasarkan kebutuhan eksekusi strategi
  2. Mempertimbangkan/ memutuskan berapa banyak wewenang pembuatan keputusan yang didelegasikan. Menetapkan pada bagian mana dari pengambilan keputusan yang bisa di-desentralisasi-kan, dan mana yang tetap ter-sentralisasi. 
  3. Mengatur hubungan eksternal, yang memfasilitasi kolaborasi dengan mitra eksternal dan aliansi strategis



Pertanyaan:
Apa indikator keberhasilan dari setiap komponen penting tersebut telah berhasil atau gagal dipenuhi?


Sumber: 
Thompson, A. A., Peteraf, M. A; Gamble, J. E.; & Striclan III, A. J. (2012),Crafting and Executing Strategy, New York: McGraw-Hill.

Strengthening A Competitive Positions

Offensive Strategy

Apapun generic competitive strategies yang digunakan oleh suatu perusahaan, namun ada waktunya dimana perusahaan harus mengambil tindakan offensive untuk memperkuat market position dan untuk meningkatkan overall company performances.
Strategi offensive yang terbaik adalah dengan menggunakan potensi sumber daya yang paling kompetitif untuk menyerang pesaing pada area yang menjadi kelemahan mereka dengan prinsip yaitu;
  1. Tetap fokus membangun competitive advantages lalu mengkonversikan menjadi sustainability advantages,
  2. Menciptakan dan membangun sumberdaya perusahaan sehingga pesaing harus berjuang untuk mempertahankan diri mereka,
  3. Menggunakan elemen kejutan yang tidak diduga oleh pesaing, 
  4. Menunjukkan kesan yang kuat dari tindakan yang cepat, tegas, dan luar biasa untuk mengalahkan pesaing.
Dari keempat prinsip tersebut, manager dapat memilih berbagai strategi yang paling sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan diri yang dimilikinya. Pilihan offensive strategy antara lain adalah;
  1. Menggunakan cost-based advantage untuk menyerang pesaing yang memiliki strategi berbasis pada harga atau nilai,
  2. Melampaui pesaing dengan cara menjadi yang pertama yang menerapkan next-generation technologies atau menjadi yang pertama untuk pasar next-generation technology products,
  3. Melanjutkan inovasi produk secara kontinyu untuk menghasilkan penjualan dan market share yang jauh dari pesaing yang kurang inovatif,
  4. Menerapkan dan mengembangkan ide yang baik dari pesaing ataupun dari perusahaan lain,
  5. Menggunakan taktik hit and run atau guerilla warfare tactics untuk merebut penjualan dan market share dari pesaing yang sombong atau pengganggu,
  6. Melancarkan serangan terlebih dahulu untuk mengamankan advantageous position yang tidak bisa dicegah atau diduplikat oleh pesaing.

Sedangkan pesaing yang dapat diserang adalah; Vulnerable market leader, perusahaan runner-up yang memiliki kelemahan pada area dimana penantangnya justru kuat, Perusahaan yang berjuang karena sudah hampir kalah, Perusahaan lokal dan regional yang memiliki keterbatasan kapabilitas.

Blue Ocean Strategy adalah strategi dengan menghindari persaingan untuk mendapatkan keunggulan kompetitif secara dramatic dan durable dengan menciptakan segmen baru dalam industri sehingga pesaing menjadi tidak relevan dan memungkinkan perusahaan untuk menciptakan dan menangkap seluruh permintaan.


Defensive Strategy

Selain menerapkan strategi menyerang, manager juga harus memahami tentantang strategi bertahan atau defensive strategy. Tujuan defensive strategy adalah;
  1. menurunkan resiko untuk diserang,
  2. mengurangi dampak dari segala serangan yang muncul,
  3. mempengaruhi penantang untuk mengarahkan serangannya kepada saingan lain.
Defensive strategy dapat ditempuh melalui dua bentuk yaitu; menutup peluang bagi penantang; dan memberikan signal kemungkinan melakukan serangan balik kepada penantang.Untuk melakukan strategic moving, harus mempertimbangkan waktu yang tepat dan diwajibkan untuk berhati-hati mempertimbangkan (dis)advantages yang menyertai strategic moving baik itu sebagai first-mover, fast-follower, maupun wait-and-see late mover.

Keputusan yang berkaitan dengan cakupan aktifitas-aktifitas perusahaan dapat juga mempengaruhi kekuatan market position perusahaan. Cakupan usaha dapat diperluas secara vertical atau horizontal. Perluasan secara horizontal dalam bentuk merger dan akuisisi dapat memperkuat daya saing perusahaan melalui 5 cara yaitu; (1) meningkatkan efisiensi operasi, (2) menaikkan diferensiasi produk, (3) menurunkan persaingan, (4) menaikkan bargaining power perusahaan terhadap suppliers dan buyers, dan (5) meningkatkan fleksibilitas dan dynamic capabilities yang dimiliki perusahaan.

Vertical integration dapat menjadi alasan yang strategis apabila menghasilkan penguatan posisi perusahaan melalui cost reduction atau menciptakan keuntungan berbasis diferensiasi. Di sisi lain, kekurangan dari vertical integration-- berupa kenaikan investasi, peningkatan resiko bisnis, rentan terhadap perubahan teknologi, berkurangnya fleksibilitas dalam perubahan produk, dan meningkatkan potensi konflik-- akan mengurangi bobot keunggulan perusahaan.

Outsourcing dapat meningkatkan daya saing perusahaan apabila; (1) ada aktifitas yang menjadi lebih baik atau lebih murah bila dihasilkan dari outsources, (2) memiliki aktifitas yang tidak dapat dirusak oleh core competency perusahaan outsource, (3) memperpendek waktu operasi perusahaan, (4) menekan resiko perusahaan, (5) memberikan akses bagi perusahaan untuk memanfaatkan kemampuan perusahaan outsource dan mampu meningkatkan kemampuan untuk berinovasi, (6) memberikan kesempatan bagi perusahaan untuk berkonsentrasi pada core business-nya dan fokus pada hal terbaik yang bisa dilakukan.


Sumber: Thompson, A. A., Peteraf, M. A; Gamble, J. E.; & Striclan III, A. J. (2012),Crafting and Executing Strategy, New York: McGraw-Hill.

Evaluating Company’s Resources and Competitive Posistion


Untuk mengevaluasi seberapa baik strategi perusahaan berjalan saat ini, dapat dilihat dari dua indikator terbaik, yaitu:
  1. Apakah perusahaan mencapai tujuan keuangan dan tujuan strategisnya,
  2. Apakah performa perusahaan berada diatas rata-rata industri. Makin baik performa perusahaan secara keseluruhan, semakin kecil kemungkinan diperlukan perubahan strategi secara radikal. Semakin lemah performa keuangan suatu perusahaan, semakin perlu dipertanyakan strategi perusahaan saat ini.
Untuk mengukur seberapa besar kekuatan sumber daya perusahaan dalam berkompetisi, maka perlu dilakukan tes empat kekuatan kompetitif sumber daya, yaitu;

  1. memiliki nilai kompetitif,
  2. langka atau tidak dimiliki oleh pesaing,
  3. susah untuk ditiru, dan
  4. ketersediaan sumber daya pengganti.

Untuk mampu menangkap peluang pasar dan mengetahui ancaman eksternal agar bisa lebih baik dimasa yang akan datang maka ada beberapa langkah yang harus ditempuh yaitu:
  1. Membuat kesimpulan yang diperoleh melalui analisa SWOT untuk mengetahui gambaran situasi perusahaan saat ini.
  2. Mengambil tindakan berdasarkan kesimpulan yang diperoleh yakni dengan strategi yang sesuai untuk penguatan internal (mengoreksi kelemahan internal) dan memperbesar peluang pasar, dan mampu menghadapi ancaman eksternal.
Tanda bahwa sebuah perusahaan memiliki biaya, harga, dan proposisi nilai yang kompetitif apabila (1) biaya dan harga produk mampu bersaing dalam industri, (2) Diferensiasi yang dilakukan mampu menyampaikan proposisi nilai kepada konsumen secara efektif.
Untuk mengukur efektifitas proposisi nilai yang diterima oleh konsumen dapat dilakukan pengujian dengan value chain analysis serta melakukan benchmarking terhadap value chain pesaing. Value chain analysis bertujuan mengukur efektifitas dan efisiensi dari aktifitas-aktifitas utama dan aktifitas pendukung serta biaya. Aktifitas utama terdiri dari supply chain management, operation, distribution, sales and marketing, serta service yang menghasilkan profit margin. Sedangkan aktifitas pendukung adalah product R&D, Technology, System Development, Human Resource, dan General Administration.
Benchmarking value chain dapat dilakukan dnegan membandingkan hasil analisa value chain yang dimiliki oleh perusahan dnegan value chain yang dimiliki oleh pesaing atau perusahaan lain yang lebih baik kemudian dapat dilakukan penyesuaian atau perbaikan melalui pembelajaran yang didapat dari keunggulan yang dimiliki oleh perusahaan lain. Dengan perunahan yang dilakukan maka perusahaan akan memiliki atau menyamai keunggulan yang dimiliki oleh pesaing perusahaan lainnya.
Dari hasil analisa value chain dan benchmark yang dilakukan akan diperoleh proficient performance pada masing-masing aktifitas. Proficient performance dari aktifitas value chain dapat diterjemahkan menjadi keunggulan kompetitif bagi perusahaan. Keunggulan ini dapat berdasarkan pada diferensiasi ataupun low cost.
Secara keseluruhan, kekuatan atau kelemahan kompetitif perusahaan dapat diukur melalui metode Representative Weighted Competitive Strength Assessment (RWCSA). RWCSA ini menggunakan hasil analisa SWOT yang dilakukan pada setiap aktifitas kemudian dikelompokkan menjadi Key Succes Factor atau ukuran kekuatan industri. Dari KSF yang ada, dilakukan assesment dan penilaian terhadap pesaing maupun perusahaan lainnya. Bandingkan hasil yang diperoleh oleh perusahaan kiat, pesaing, dan perusahaan lainnya,  maka akan didapatkan perbandingan bobot kompetitif secara keseluruhan.
Langkah berikutnya adalah melakukan listing terhadap kekurangan yang dimiliki oleh perusahaan. Buat Worry List terhadap masalah-masalah yang dapat mengurangi kemampuan berkompetisi di masa akan datang. Dari worry list itu, identifikasikan permasalahan apa saja yang dimiliki perusahaan. Tentukan strategi apakah yang akan digunakan untuk mengatasi permasalahan dan mengurangi kelemahan perusahaan agar mampu bersaing dalam jangka waktu yang panjang (have a sustainability competitiveness).

(Sumber: Thompson, A. A., Peteraf, M. A; Gamble, J. E.; & Striclan III, A. J. (2012),Crafting and Executing Strategy, New York: McGraw-Hill.)


Pertanyaan:

  1. Bagaimana mengukur Supplier-related value chain?
  2. Bagaimana menentukan nilai importance weight?
  3. Bagaimana memberikan penilaian terhadap masing-masing Key Success Factor?

Company External Environment



Lingkungan makro meliputi konteks lingkungan yang luas dimana perusahaan itu berada. Lingkungan makro terdiri dari tujuh komponen utama yaitu; 

(1) demografi,
(2) nilai sosial dan gaya hidup,
(3) politik, hukum dan peraturan,
(4) lingkungan hidup dan ekologi,
(5) teknologi,
(6) kondisi ekonomi umum, dan
(7) kekuatan global.

Berpikir Strategis Tentang Industri Perusahaan Dan Lingkungan Persaingan

Untuk dapat memahami Tentang Industri Perusahaan Dan Lingkungan Persaingan, manajer harus dapat mengumpulkan berbagai informasi dan melakukan analisa agar mampu menjawab tujuh pertanyaan kunci berikut;
  1. Apakah Industri menawarkan peluang pertumbuhan yang menarik? 
  2. Seperti apa dan sekuat apa daya saing yang dihadapi oleh setiap anggota industri? 
  3. Faktor-faktor apa yang mendorong terjadinya perubahan dalam industri dan sebarapa besar dampaknya terhadap intensitas persaingan dan profitabilitas? 
  4. Bagaimana posisi posisi pesaing dalam industri?, siapa yang terkuat dan terlemah? 
  5. Perubahan strategi apa yang akan dilakukan oleh pesaing? 
  6. Apakah faktor kunci sukses dalam persaingan di masa depan 
  7. Apakah industrimenawarkan prospek yang baik serta keuntungan yang menarik?
Untuk menjawab pertanyaan itu maka harus diketahui terlebih dahulu lima model kekuatan (Five Forces) dalam persaingan, yaitu;
  1. Persaingan diantara sesama penjual dalam industri. 
  2. Persaingan berkaitan dengan pendatang baru yang potensial dalam industri. 
  3. Persaingan dengan produsen produk subtitusif. 
  4. Supplier bargaining power. 
  5. Customer bargaining power.
Bagaikan sebuah aturan, daya saing yang terkuatlah yang akan menentukan tingkat competitive pressure pada profitabilitas industri. Manajer harus bisa menerapkan strategi yang sesuai untuk melindungi perusahaan dari competitive pressure dengan memperhatikan 3 aspek yaitu; (1) mencari jalan untuk melindungi perusahaan dari tekanan kompetitif, (2) melakukan tindakan tepat untuk menggeser tekanan kompetitif guna mendukung perusahaan dalam menghadapi 5 kekuatan persaingan, (3) melihat arena lain yang memiliki tekanan kopetitif yang lebih lemah.

Perubahan pada industri dapat berdampak positif dan negatif bagi perusahaan. Untuk mengetahui perubahan yang terjadi serta dampaknya bisa dilakukan dengan menggunakan analisis dinamika industri (Dynamic Industry Analysis). Analisa dinamika industri terdiri dari :
  1. Identifikasi penyebab perubahan. 
  2. Menilai apakah perubahan yang terjadi akan menyebabkan industri menjadi semakin menarik atau sebaliknya.
  3. Menentukan perubahan strategi untuk mengantisipasi dampak dari perubahan yang terjadi.
Saat terjadi perubahan dalam industri, perusahaan perlu mengetahui posisi pesaing dalam pasar yaitu dengan menggunakan teknik strategic group mapping yang dapat membantu untuk menunjukkan perusahaan mana saja yang dekat atau jauh dari pesaing. Memantau pesaing dapat membantu perusahaan untuk mempersiapkan lankah apa yang diambil untuk mengatasi pergerakan pesaing dan bila perlu melakukan tindakan terlebih dahulu untuk menghindari kerugian. Untuk mengetahui strategi apa yang akan diterapkan oleh pesaing, manajer dapat menerapkan Competitive intelligence.

            Industry Key Succes Factors (KSFs) adalah elemen strategi khusus, atribut produk, pendekatan operasional, sumberdaya, dan kapabilitas kompetitif yang harus dimiliki setiap pemain dalam industri agar dapat bertahan dan berhasil dalam industri. KSFs berbeda untuk tiap industri, namun berdasarkan pada keadaan tertentu KSFs dapat ditentukan dari jawaban pertanyaan berikut;
  1. Dasar apa pembeli menentukan pilihan produk yang dibeli dari merk yang bersaing? Atribut produk dan karakter pelayanan adalah hal yang sangat krusial. 
  2. Sumberdaya dan kapabilitas kompetitif apa yang harus dimiliki oleh perusahaan agar mampu bersaing dipasar? 
  3. Kekurangan apa yang dapat secara signifikan merugikan perusahaan?
Sumber: Thompson, A. A., Peteraf, M. A; Gamble, J. E.; & Striclan III, A. J. (2012),Crafting and Executing Strategy, New York: McGraw-Hill.

Senin, 02 Desember 2013

What Is Strategy and Why it is Important?


Strategi bisnis adalah langkah-langkah kompetitif dan pendekatan-pendekatan bisnis yang dibangun oleh manajer agar mampu berhasil dalam persaingan, meningkatkan kemampuan dan pertumbuhan bisnis. Starategi bisnis dibuat agar perusahaan mampu untuk (1) berkompetisi; (2) menghadapi berbagai perubahan ekonomi dan kondisi pasar, dan permodalaan dalam menumbuhkan peluang; (3) Mengatur setiap bagian fungsiaonal bisnis; (4) Meningkatkan kemampuan keuangan dan pemasaran. Strategi adalah tentang kemampuan bersaing dengan membedakan diri dari pesaing dengan melakukan apa yang tidak dilakukan oleh pesaing atau bahkan yang tidak mampu dilakukan oleh pesaing.

Setiap strategi membutuhkan elemen-elemen khusus untuk menarik konsumen dan menghasilkan keunggulan kompetitif dengan dilengkapi arahan dan petunjuk tentang apa saja yang harus dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. Hati dan Jiwa dari sebuah strategi adalah pada tindakan dan pergerakan yang diambil untuk memperoleh keunggulan kompetitif dari pesaing. Setiap strategi perusahaan akan mencapai keunggulan kompetitif yang berkelanjutan apabila perusahaan tersebut dapat memenuhi keinginan konsumen secara lebih efektif dan efisien dibanding dengan pesaingnya walaupun pesaing tersebut akan berusaha untuk menyamai atau bahkan melampaui keunggulan tersebut.

Ada empat pendekatan strategis yang sering digunakan dalam upaya untuk membedakan diri dari pesaing, untuk membangun loyalitas yang kuat pada konsumen dan untuk memenangkan keunggulan kompetitif. Keempat pendekatan tersebut adalah:
  1. Industry’s Low-cost provider. Memiliki keunggulan kompetitif berbasis biaya dengan menargetkan pada konsumen yang sensitif terhadap harga. 
  2. Differentiating feature. Memiliki keunggulan kompetitif berbasis pada perbedaan fasilitas seperti kualitas, jumlah varian produk, feature tambahan, value-added service, keunggulan teknologi serta pelayanan lainnya yang lebih atraktif. Pendekatan ini yang paling banyak digunakan untuk mass-products yang biasanya persaingan sangat kuat dalam industri tersebut. 
  3. Niche market. Fokus pada pasar khusus dengan keunggulan pada hasil kerja yang lebih baik dibanding pesaing dalam hal pelayanan dan pemenuhan keinginan serta selera konsumen. 
  4. Best-prices. Memiliki keunggulan kompetitif dengan mampu memberikan harga yang lebih murah atau harga terbaik pada produk yang memiliki fasilitas yang sama dengan produk merek lain yang lebih mahal.
Setiap strategi harus dapat berkembang seiring perubahan kondisi dan perubahan waktu. Startegi yang terus berkembang dari waktu ke waktu adalah hasil dari peningkatan strategi yang telah ada sebelumnya melalui usaha yang dilakukan oleh manajemen secara terus menerus. Untuk dapat membuat strategi yang mampu bertahan sepanjang waktu, perusahaan juga harus menciptakan deliberates startegy atau proactive strategy yang merupakan strategi jangka panjang dalam kondisi normal dan emmergent strategy atau reactive strategy yang merupakan startegi one-event strategi untuk keadaan tertentu.

Strategi perusahan yang dibuat harus sejalan dengan business model untuk menghasilkan uang dimana terdapat dua elemen penting yang harus bisa diwujudkan dengan strategi yaitu: (1) The customers value proposition. Perencanaan untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen dengan harga yang sesuai, (2) Profit formula. Perencanaan struktur biaya yang lebih menguntungkan.
Strategi yang unggul adalah strategi yang mampu melewati tiga macam tes, yaitu;
  1. Fit Test. Strategi yang unggul harus sesuai dengan kondisi perusahaan baik secara internal, eksternal, maupun dinamis sehingga mampu berkembang dari waktu ke waktu. 
  2. Competitive Advantage Test. Strategi yang unggul akan mampu menciptakan keunggulan kompetitif secara berkelanjutan. 
  3. Performances Test. Strategi yang unggul akan meningkatkan performa perusahan dari segi kekuatan keuangan dan keuntungan juga dari segi kemampuan bersaing dan mempertahankan pasar. 
Suatu Strategi yang baik dan mampu dilaksanakan dengan baik merupakan hasil dari manajemen yang baik. Good Strategy + Good Executing = Good Management.



(Sumber: Thompson, A. A., Peteraf, M. A; Gamble, J. E.; & Striclan III, A. J. (2012),Crafting and Executing Strategy, New York: McGraw-Hill.)